Resensi Buku: Sunya

Resensi Buku: Sunya
Oleh: Donny Gahral Adian (Dosen Filsafat FIB-UI)

Sunya, Sunyi, dan Kata
KOMPAS, 12 September 2004

Seorang karib bertanya, “Apa jadinya saat filsuf menulis puisi?” Saya tercenung dan menjawab, “Ada dua kemungkinan.” Pertama, puisi dijadikannya wahana untuk gagasan-gagasan filsafat. Seperti layaknya medium seni lainnya, puisi dianggapnya seksi untuk meloloskan yang filsafati ke publik. Kedua, puisi dijadikannya filsafat itu sendiri. Inilah idealisasi puisi yang diidamkan filsuf Jerman, Martin Heidegger. Saat itu puisi tidak lagi menjadi ansilla philosophia (hamba sahaya filsafat) belaka.

Saya mencium gelagat ini. Saat Mudji Sutrisno menulis puisi, ia mengambil jalan kedua. Puisi-puisinya yang terangkum dalam Sunya adalah hasil renung panjang atas hidup yang sarat soal. Dia tak ingin berkhotbah filsafati lewat puisi-puisinya. Yang dilakukannya hanyalah merenung. Berhenti sejenak dari ziarah filsafatinya dalam dunia kepustakaan STF Driyarkara. Dan mulai mendengar denting kehidupan dengan telinga baru.

Mengapa harus Sunya? Sunya mengingatkan saya pada kasunyatan. Kata dalam bahasa Jawa yang berarti kenyataan. Namun, ia bukan kenyataan yang dipeluk ilmu alam. Bukan pula kenyataan yang digenggam erat agama. Kasunyatan adalah kenyataan dalam bentuknya yang paling sunyi. Ia adalah Ada yang menopang keseluruhan hingga tak tersentuh indra. Batin atau lahir. Apakah itu Tuhan? Belum tentu.

Saya hanya tahu pasti satu hal. Puisi-puisi Mudji mencoba menelisik yang sunyi dari kenyataan. Mengindra panorama yang selama ini sumir atau sengaja disumirkan. Untuk itu, hening dan renung menjadi sesuatu yang disucikannya. Sebab, seperti ditulisnya dalam Renung Ning: apa ramai bincang/ bisa jadi prosa/ tanpa hening renung? Apa prosa kata/ bisa jadi puitik puisi/ tanpa samadi ruang? (hal 33) Saya sendiri tidak bisa membayangkan dunia tanpa hening dan renung. Dunia yang sarat peristiwa. Namun miskin periksa. Dunia tanpa perhentian.

Sunyi. Kata itu sungguh berarti rupanya bagi Mudji Sutrisno. Dua puisinya pun berkisah tentang itu. Puisi pertama tentang itu berjudul Sunyi (1). Di sini Mudji, lahir sendiri/ meniti hari/ sepi/ sunyi/ tiap kali/ mengeja kata/ hingga berbunyi/ agar mati berarti (hal 43). Mudji berupaya merenung arti hidup yang dirundung kesunyian. Apa arti hidup saat kita dijepit dua kesunyian sekaligus: lahir dan mati? Jawabnya, eja kata hingga berbunyi. Secara logika mungkin berputar. Bukankah mengeja selalu berarti berbunyi? Itulah kelihaian Mudji bermain kata. Berbunyi baginya bukan sekadar mengeja kata di mulut. Hidup bisa berarti jika kita mengeja kata hingga berbunyi dalam hati dan tindakan.

Kata tidak berdiri sendiri. Ia hidup dalam komunitas. Sebab itu, ia menuntut kepercayaan. Dalam Sunyi (2), Mudji menulis, kata/ bila tak siapa siapa/ percaya/ ke mana langkah dibawa (hal 44). Kata bagi Mudji adalah wujud kesalingan antar-manusia. Saat saling percaya hilang, kata pun menjadi tak berarti. Saat dunia dipenuhi firman sekaligus kebohongan, jalan keselamatan pun menjadi omong kosong. Sebab, dunia yang sunyi atas saling percaya adalah dunia tempat manusia mencari keselamatan sendiri-sendiri.

Sunyi adalah peristirahatan. Sebuah samadi atas arus hidup yang berkelanjutan. Mudji pun mengajak kita bersamadi sejenak. Dalam Kabur Demokrasi, ia bersamadi ulang tentang demokrasi. Ia merenung, sudah mengabur/ dalam bubur/ demokrasi dan anarki/… liang kubur siap/ merumah buat/ nurani/ nilai dan moralitas (hal 19). Puisi ini mengingatkan kita sesuatu yang kerap dilalaikan. Bahwa hidup bersama yang disebut demokrasi tak ayal menuntut moralitas.

Hidup bersama. Renung Mudji Sutrisno tentang ini sungguh liris. Tengok saja Ziarah. Sepi manusia/sunyi sapa/ sunyi manusia/ hening sapa/ hening manusia (hal 21). Manusia bagi Mudji adalah sapa. Ia tak bisa mewujud sendiri. Tanpa hubungan antar-manusia yang sarat sapa, kemanusiaan dalam bahaya. Keakuan senantiasa menciptakan keberlainan. Ujungnya, permusuhan dan benci. Mudji menggugat. Engkau dalamKu/aku dalamMu, tulisnya.

Pertanyaannya, di manakah tempat bagi kesendirian? Saya percaya bahwa kesendirian paling asali adalah saat seseorang menatap kematian. Saat rasa takut larut menjadi bening kedirian. Mudji pun menulis tentangnya dalam Sujud: ranting jemari kusut/ itu/ mentaut/ mengucap sujud/ menyelimut/ kulit keriput/ menuntas/ larut takut (hal 35). Kematian bukan sesuatu yang perlu ditakuti. Ketakutan berasal dari geliat keakuan. Sujud dan pasrahlah. Di situ kau akan berjumpa dengan yang asali. Apa pun itu.

Sejauh ini, kenikmatan puisi-puisi Mudji bersandar pada kesunyian, keheningan, kesendirian, bahkan kematian. Lalu bagaimana dengan yang Marx, yang Lucacs dan yang Brecht dalam sosok Mudji Sutrisno? Bukankah gegap perubahan lebih penting ketimbang perenungan yang bersunyi-sunyi. Adorno, filsuf Mazhab Frankfurt, menggugat, “menulis puisi setelah Auswitsch adalah biadab!”. Mungkin benar. Namun, dunia ini bukanlah dunia peristiwa semata. Ia adalah dunia yang dirajut oleh makna. Maka, tanpa perubahan dalam dunia makna jangan harap dunia peristiwa berlaku serupa. Gerakan bawah tanah dunia makna menuntut puisi: kesunyian itu sendiri.

Mudji sungguh tak berubah. Ia tetap Mudji yang setia dengan gagasan estetika untuk perubahan. Bahkan, ia tak menunjukkan pertentangan yang berarti antara yang realis dan yang romantis. Puisinya pun tak bisa serta merta dicap “borjuis”. Kesunyian dalam puisinya adalah kesunyian yang memberontak. Dalam puisinya Pendek Ingatan ia menulis, sementara jelata tetap/ pendek ingatan/ pendek sapaan/ tipis belaan/ di jalan panjang korban/ perjuangan (hal 59). Ingatan adalah kunci perubahan. Ia adalah pembela terakhir mereka yang terkubur oleh waktu. Saat kekuasaan menjadi pelupa yang tak pernah jera. Puisi pun menjadi cara mengingatkan, sebab sejarah bisa cepat berganti menjadi sunyi.

Satu yang diyakini Mudji: kekuasaan memiliki kesunyiannya sendiri. Oleh sebab itu, Mudji melawan sunyi dengan sunyi. Puisinya menjedakan kita sejenak guna membuka kontak Pandora yang dibungkus rapi oleh kuasa. Kotak yang tidak berisikan segala yang jahat, melainkan buih-buih kebenaran. Dalam Mei 6 Tahun Berlalu, ia pun menulis: jerit rerintihan/ perih ibu/ memangku anak/ bermandi darah/ tetap saja/ sia menggugah/ tanggungjawab/ pelaku kelabu (hal 55). Saat peristiwa menjadi angka tanggal dan jumlah korban, Mudji mengingatkan kita akan sesuatu yang tak terwakili keduanya. Keperihan.

Seperti biasa, perubahan senantiasa menggandeng pesimisme. Terutama saat penyair terbentur pada pertanyaan abadi: bagaimana mengubah peristiwa dengan kata. Mudji pun bergelut dengan persoalan yang sama. Namun, jauh dari sikap gundah, Mudji Sutrisno menunjukkan ketenangan begawani-nya.

Tinggalkan komentar

Filed under Resensi / Book Review

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s